Elok Jamilah, S.Pd
Mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami

Kategori

 
 

Link Lain

 
 

Pengunjung

8658
 

Penelitian Tindakan Kelas Bahasa Indonesia melalui Strategi Pemodelan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MERINGKAS NOVEL REMAJA INDONESIA MELALUI STRATEGI PEMODELAN 

BAB  I

PENDAHULUAN

A.  Latar  Belakang  Masalah

Dalam  kurikulum  sekolah  mulai  dari  tingkat  dasar  sampai  menengah,  mata  pelajaran  bahasa  Indonesia  wajib  diajarkan  kepada  siswa  agar  siswa  mengenal,  memahami  dan  mencintai  bahasa  negaranya  sendiri.  Pengenalan  mata  pelajaran  bahasa  Indonesia  perlu  diberikan  sejak  dini  kepada  siswa  sejak  duduk  dibangku  Sekolah  Dasar.

Kegiatan  dalam  pembelajaran  bahasa  Indonesia  meliputi  beberapa  aspek,   antara  lain :  Mendengarkan,  Berbicara,  Membaca,  dan  Menulis. Dalam  materi  pelajaran  bahasa  Indonesia,  keempat  aspek  kebahasaan  tersebut  juga  tertuang  dalam  kurikulum  2004  ditambah  dengan  aspek  Apresiasi  Sastra.

            Salah  satu  kegiatan  dalam  mengapresiasi  sastra  adalah  meringkas  novel. Dalam  pembelajaran  meringkas  novel  Remaja  Indonesia,  daya  serap   yang   diperoleh   siswa   kelas   VIII-4   dalam   kategori   cukup   yaitu

Rerata  73.  Perolehan  rata-rata  tersebut  perlu  ditingkatkan  karena  berada  pada  batas  70 – 75.  Dengan  demikian  menurut  peneliti,  hasil  tersebut  masih  rendah.  Rendahnya  daya  serap  kompetensi  ini  disebabkan  karena  metode  pembelajaran  yang  dipergunakan  oleh  guru   kurang  tepat.  Hal  ini  yang  mengakibatkan  antusiasme  siswa  dalam  pembelajaran  kompetensi  ini  kurang,  serta  hasil  tugas  yang  dikerjakan  oleh  siswa  terkesan  asal-asalan.  Beberapa   faktor   yang   menyebabkan  hal  tersebut  di  atas  adalah : 

(1) Konsentrasi belajar siswa tidak lebih dari 20 menit. Padahal dalam membaca novel dibutuhkan konsentrasi dan waktu yang lama.

(2) Materi yang terdapat dalam buku paket siswa, ceritanya kurang menarik dan tidak dikenal oleh siswa. Ini yang mengakibatkan siswa tidak tertarik pada kompetensi dasar ini. Selain itu materi yang ada dibuku paket siswa hanya merupakan ringkasan cerita dari satu bagian dalam isi novel. Jadi siswa hanya mengenal sepenggal isi cerita novel tersebut.

(3) Dengan alokasi waktu 5 jam pelajaran ( 2 X pertemuan ), tidak mungkin siswa dapat membaca isi novel secara keseluruhan sampai selesai.

(4) Kurangnya koleksi  novel yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, sehingga apabila guru mengganti cerita novel yang ada di buku paket dengan cerita novel yang sedang boming atau terkenal dan dikenal oleh remaja terutama untuk anak SMP, perpustakaan sekolah hanya mempunyai koleksinya dalam jumlah terbatas.

Meskipun   daya   serap   nilai   bahasa   Indonesia   cukup  bahkan

masih kurang, sampai saat  ini guru masih belum juga beranjak melakukan  upaya bagaimana cara meningkatkan kemampuan siswa kelas VIII-4, terutama dalam hal  meringkas serta menanggapi novel. Selama ini guru masih mengacu hanya pada buku paket pegangan siswa. Tidak mencoba untuk mencari materi yang di luar  paket siswa. Alasannya jika mencari novel  yang di luar paket siswa, kendalanya  justru  pada jumlah novelnya yang tidak ada. Jika siswa  diberi  tugas  membaca  novel dalam waktu satu minggu, banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas dari guru, mereka beralasan membaca cerita novelnya belum selesai karena banyak tugas dari guru lain, atau tidak mendapat giliran membaca novel dari temannya satu kelompok. Kalaupun siswa yang tidak selesai membaca isi novel tersebut mengerjakan tugas guru, tugas yang  dikerjakan asal-asalan saja (asal  mengerjakan,  biarpun  sedikit salah asal tidak dihukum oleh guru).

                     Selama ini proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan oleh peneliti selaku guru bahasa Indonesia di SMP. BAHAUDDIN NGELOM TAMAN, juga merupakan kegiatan rutinitas dari tahun ke tahun. Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia terutama kompetensi dasar meringkas dan novel remaja Indonesia, guru hanya membacakan ringkasan yang terdapat dalam buku paket, lalu ceramah sebentar dan menugaskan kepada siswa untuk melanjutkan ringkasan ceritanya dengan cara mencari sendiri kelanjutan ceritanya. Jika tugas di sekolah belum selesai, maka tugas tersebut dijadikan tugas di rumah atau pekerjaan  rumah (selanjutnya disebut dengan  PR).

                        Siswa yang rajin akan berusaha mencari novel yang sama dengan yang ada di buku paket. Siswa akan berusaha semampunya sampai mendapatkan novel tersebut untuk bisa mengerjakan tugas dari guru. Sedangkan siswa yang kurang mampu dalam hal ekonomi, untuk membeli novel mapun menyewa membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Siswa yang  seperti gambaran di atas lebih memilih mencontoh teman. Apalagi siswa yang malas belajar, mendapat tugas mencari novel, sangat memberatkan bagi mereka. Mereka lebih memilih mencontoh teman, daripada harus susah-susah mencari dan berusaha sendiri. Mengerjakan tugasnya asal-asalan, maka prestasi belajarnya kurang memuaskan.

                     Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia seperti ilustrasi di atas terjadi di kelas VIII-4. Siswa yang kurang antusias dalam belajar sastra terutama dalam membaca, meringkas dan menanggapi novel karena selain ceritanya kurang menarik, novel rujukan dari guru tidak ada di perpustakaan sekolah. Jadi sudah kloplah  malasah  yang  ada  dan  terjadi  rutin  setiap  tahun.

                     Disamping  itu  kondisi  siswa  kelas  VIII-4  saat ini  berjumlah  46  orang  siswa,  dengan jumlah  siswa  laki-laki  24  orang  dan  perempuan  22  orang.  Dengan  jumlah  siswa  yang  begitu  banyak  dalam  satu  kelas  tidak  mudah  bagi  guru  untuk  menanamkan  konsep  yang  mudah  diterima  oleh  siswa  dalam  satu  kelas.  Dibutuhkan  tenaga  dan  upaya  yang   ekstra  agar  bisa  mencapai  nilai  yang  memuaskan  dalam  setiap  kompetensi  dasar.  Secara  umum  kemampuan  dasar  siswa  kelas  VIII-4  cukup  bagus,  akan  tetapi  mungkin  karena  strategi  pembelajaran  yang  diterapkan  oleh  masih  menggunakan  strategi  tradisional  yang  monoton,  serta  belum  bisa  membangkitkan  minat  dan  gairah  siswa  untuk  belajar  mengapresiasi  sastra  terutama  dalam  hal  meringkas  novel.

                     Hal  ini  senada  dengan  apa  yang  dikatakan  oleh  Sawali  Tuhusetya  (2008),  bahwa  pelajaran  sastra  disekolah  belum  sepenuhnya  mampu  membangkitkan  minat  dan  gairah  siswa  untuk  belajar  apresiasi  sastra  secara  suntuk,  total,  dan  intens.  Suasana  pengajaran  sastra  berlangsung  monoton,  tidak  menarik  bahkan  menegangkan.  Siswa  hanya  diberlakukan  bak  "Tong  sampah"  yang  terus  menerus  menerima  transfer  ilmu  bercorak  teoritis  dan  hafalan  dari  sang  guru.  Tanpa  disediakan  ruang  untuk  berdiskusi,  berdialog,  dan  bercurah  pikiran  terbuka,  interaktif,  kritis  dan  kreatif.  Siswa  hanya  dibebani  target  untuk  mencapai  hasil  belajar maksimal  dalam  prestasi  akademik  tanpa  diimbangi  dengan  pendalaman  secara  apresiasif.

                     Berdasarkan  pada  kenyataan  masalah  di  atas,  maka  untuk  meningkatkan  hasil  belajar  siswa  dalam  mengapresiasi  sastra  terutama  dalam meringkas  novel  remaja  Indonesia  digunakanlah  strategi  pemodelan.  Alasan  peneliti  memilih  strategi  pemodelan  ini  adalah  dengan  menggunakan  pemodelan  siswa  akan  lebih  mudah  memahami  materi  yang  disampaikan  oleh  guru,  serta  belajar  akan  terasa  lebih  menyenangkan.

                            Dari  paparan  di  atas,  maka  perlu  dilakukan  kajian  oleh peneliti  dengan  judul  :  Peningkatan  Hasil  Belajar  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia  Melalui  Strategi  Pemodelan  di  Kelas  VIII-4  SMP  BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahun  Pelajaran  2007-2008.

 

B.  Rumusan  Masalah

             Berdasarkan  latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah      yang  akan  dibahas  dalam  penelitian  ini  adalah :

  1. Bagaimana  proses  pelaksanaan  pembelajaran  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia  melalui  strategi  pemodelan  di  kelas  VIII-4  siswa  SMP. BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahun  Pelajaran  2007-2008 ? 
  2. Bagaimana hasil  pembelajaran  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia  melaui  penerapan  strategi  pemodelan di kelas VIII-4 siswa SMP. BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahuin Pelajaran 2007-2008 ?
  3. Bagaimana  tanggapan  siswa kelas VIII-4 siswa SMP. BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahun Pelajaran 2007-2008 dengan diterapkannya strategi  pemodelan  pada pembelajaran  meringkas  novel Remaja Indonesia ?

C.  Tujuan  Penelitian

     1.  Tujuan  Penelitian

           Sesuai  dengan  permasalahan  di  atas,  maka  tujuan  yang  ingin  dicapai  dalam  Peneilitian  Tindakan  Kelas  ini  adalah  :

  1. Mengetahui  keefektifan  proses  pelaksanaan  pembelajaran  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia  melalui  Strategi  Pemodelan  di  kelas  VIII-4  siswa  SMP. BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahun  Pelajaran  2007-2008.
  2. Mengetahui  hasil  Pembelajaran  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia  melalui  Strategi  Pemodelan  di  kelas  VIII-4  siswa  SMP.  BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  Tahun  Pelajaran  2007-2008.
  3. Menggali  tanggapan  siswa  kelas  VIII-4  SMP.  BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  tentang  penggunaan  Strategi  Pemodelan  pada  pembelajaran  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia.

D.  Manfaat  Pernelitian

a.  Bagi  Peneliti

  Jika  penerapan  Strategi  Pemodelan  ini  terbukti  dapat  meningkatkan  motivasi  dan  hasil  belajar  siswa,  maka  strategi  pembelajaran  ini  dapat  dilanjutkan  pada  materi  pokok  yang  lain.  Selain  itu  dengan  adanya  penelitian  ini  semakin  menambah  wawasan  dan  kreatifitas  guru  dalam  mengembangkan  model-model  pembelajaran  yang  lain  serta  untuk  meningkatkan  profesionalitas  guru.

  1. Bagi  Lembaga  Sekolah

  Diharapkan  dengan  adanya  penelitian  ini  dapat  di   jadikan  masukan  bagi  sekolah  untuk  terus  menerus  memperbaiki  sarana  dan  prasarana  pembelajaran  yang  lebih  bervariasi  untuk  memfasilitasi  kreatifitas  guru  dalam  proses  belajar  mengajar.

E.  Definisi  Operasional,  Asumsi  dan  Keterbatasan

     1.  Definisi  Operasional

          Dalam  penelitian  ini  definisi  operasional  masalah  adalah  :           

          a.  Model  Pembelajaran  Kontekstual  Strategi  Pemodelan

  Adalah  model  pembelajaran  yang  dilakukan  dengan  cara  direncanakan  secara  cermat  mengenai  kegiatan proses  pembelajaran  untuk  mencapai  indikator  dalam  kompetensi  dasar  meringkas  novel  remaja  Indonesia  dengan  menggunakan  alat  Bantu  Video Compact  Disc  serta  power   point  sebagai  model.

 

         b.  Hasil  Belajar

  Adalah  penguasaan  pengetahuan  atau  ketrampilan   siswa  pada  suatu  mata  pelajaran.  Lazimnya  ditunjukkan  dengan  nilai  atau  angka  yang  diberikan  oleh  guru.  Hasil  belajar  pada  penelitian  ini  adalah  nilai  yang  diperoleh  siswa  pada  pembelajaran  meringkas  novel  remaja  Indonesia.

          c.  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia

  Yang  maksud  dengan  meringkas  novel  remaja  Indonesia  adalah  memendekkan  cerita  panjang  yang  bertemakan  tentang  kehidupan  anak-anak  yang  sudah  mulai  dewasa  dengan  cara  mengambil   intisari  dari  cerita  dengan  mempertahan  isi  dan  sudut  pandang  pengarang  yang  berasal  dari  negeri  sendiri  yaitu  Indonesia.

     2.  Asumsi 

      Untuk   memperlancar   proses   penelitian   sehingga   lebih  terarah   dan  terencana, maka  diasumsikan  bahwa  jika  tidak digunakan pembelajaran  konvensional  dan  dengan  menggunakan  pembelajaran  CTL pemodelan  , maka   dapat   meningkatkan  hasil  belajar  siswa  pada  pembelajaran  meringkas  novel  remaja   Indonesia  di  kelas  VIII-4   siswa   SMP  BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO.  

     3.  Keterbatasan

     Supaya  permasalahan  yang  akan  dibahas  tidak  terlalu  luas,  maka  penulis  memberi  batasan  sebagai  berikut :

  1. Materi  pengajaran  yang  dilakukan  adalah  bidang  studi  bahasa  Indonesia  dengan  Kompetensi  Dasar  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia.
  2. Siswa  kelas  VIII  di  SMP.  BAHAUDDIN  TAMAN  SIDOARJO  ada  7  kelas  parallel,  yaitu  :  VIII-1,  VIII-2, VIII-3, VIII-4, VIII-5, VIII-6, VIII-6  dan  VIII-7.  Dari  ketujuh  kelas  paralel  tersebut  peneliti  membatasi  hanya  melakukan  penelitian  di  kelas  VIII-4  semester  2  Tahun  Pelajaran  2007-2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  II

KAJIAN  PUSTAKA

A.  Teori  Belajar

      Dalam membicarakan hasil belajar tidak terlepas dari dari kata belajar  itu  sendiri .

a. Belajar

Belajar  merupakan  proses  perubahan  tingkah  laku  atau  tanggapan  yang  disebabkan  oleh  pengalaman.  Beberapa  pengertian  atau  definisi  tentang  belajar  antara  lain  : Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada penguasaan, kecakapan atau skill. Kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh disampaikan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif ( WS. Wingkel , 1989 )

         Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responnya menjadi menurun. Sedangkan menurut Gagne Belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi menjadi kapasitas baru  (Dimyati, 2002;10)

             Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) Belajar diartikan dengan berusaha (berlatih dsb) supaya mendapat suatu kepandaian.

                            Berdasarkan definisi belajar di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa belajar  adalah perubahan tingkah laku dan perbuatan karena adanya pengalaman dan latihan. Belajar akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar, Perubahan ini meliputi kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat dan penyesuaian diri.

 

      b.   Hasil  Belajar

adalah  penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi dalam penelitian yang dimaksudkan adalah nilai yang diperoleh siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia Remaja Indonesia dalam bentuk nilai berupa angka.

       cFaktor-Faktor  yang  Mempengaruhi  Belajar 

Hasil  belajar  yang  diperoleh  siswa-siswi  berbeda-beda.  Hal  tersebut  dapat  terjadi  karena  banyak  faktor  yang  mempengaruhinya.  Faktor-faktor  tersebut  adalah  :

1.  Faktor  yang  berasal  dari  diri  siswa  ( Faktor  Internal )

           Menurut  Kartini  Kartono (1995 ; 1-4)  ada  5  faktor  internal  yang  mempengaruhi  hasil  belajar  siswa,  yaitu  : 

a)  Kecerdasan

            Kecerdasan  atau  Intelegensi  dalam  arti  sempit  adalah  kemampuan  seseorang  untuk  mencapai  prestasi  di  sekolah  yang  di  dalamnya  berfikir  sangat  berperan  penting.  Kecerdasan  sangat  berpengaruh  sekali  terhadap  hasil  belajar  siswa  pada  semua  peringkat  atau  tingkatan  pendidikan.  Seorang  siswa  yang  tingkat  kecerdasannya  tinggi  mempunyai  korelasi  yang  cukup  tinggi  terhadap  hasil  belajar  seseorang.  Hal  ini  sudah  diakui  oleh  guru,  orang  tua  maupun  oleh siswa  sendiri,  bahwa  dalam  belajar  di  sekolah,  kecerdasan  atau  intelegensi  mempunyai  pengaruh  yang  kuat  terhadap  hasil  belajar  yang  dicapai  oleh  siswa.

 

 

         b)  Bakat

Bakat  adalah  potensi  atau  kemampuan  yang  bila  diberi  kesempatan  untuk  dikembangkan  melalui  belajar,  akan  menjadi  kecakapan  yang  nyata.  Setiap  siswa  mempunyai  bakat  yang  berbeda-beda  antara  satu  dengan  yang  lainnya.   Sehingga  kemungkinan  hasil  belajar  siswa  yang  berbakat  dalam  kemampuan  berbahasa,  mereka  lebih  baik  nilainya  dalam  pelajaran  bahasa  Indonesia.

         c)  Faktor  Sikap

Sikap  sebagai  kecenderungan  jiwa  yang  prediktif  sifatnya  dalam  mereaksi  sesuatu,  termasuk  dalam  menanggapi  suatu  pelajaran,  akan  besar  pengaruhnya  terhadap  keberhasilan  belajar.

       Sikap   yang  negatif  terhadap  suatu  mata  pelajaran  atau  pembelajaran  akan  mempengaruhi  hasil  belajar  siswa.  Hal  ini  membuktikan  bahwa  umtuk  dapat  mencapai  suatu  hasil  belajar  yang  baik,  perlu  adanya  sikap  positif  terhadap  suatu  mata  pelajaran  dalam  arti  tidak  ada  salah  satu  pelajaran  yang  tidak  disukai,  karena  dengan  menghilangkan   sikap  yang  negatif  inilah  akan  dapat  dicapai  hasil  belajar  yang  memuaskan.

       d)   Motivasi

              Pengertian  Motivasi  menurut  Sadirman  A.M  (2007 ; 75) dikemukakan  bahwa  di  dalam  kegiatan  belajar,  motivasi  dapat  dikatakan  sebagai  keseluruhan  daya  penggerak  di  dalam  diri  siswa  yang  menimbulkan  kegiatan  belajar  yang  menjamin  kelangsungan  dari  kegiatan  belajar  dan  memberikan  arah  pada  kegiatan  belajar,  sehingga  tujuan  yang  dikehendaki  oleh  subjek  belajar  itu  dapat  tercapai.

             Peranannya  yang  khas  adalah  dalam  hal  penumbuhan  gairah,  merasa  senang  dan  semangat  untuk  belajar.  Siswa  yang  memiliki  motivasi  kuat  akan  mempunyai  banyak  energi  untuk  melakukan  kegiatan  belajar.

            Motivasi  dapat  berfungsi  sebagai  pendorong  usaha  dan  pencapaian  prestasi.  Makin  tepat  motivasi  yang  diberikan  akan  semakin  mendorong  siswa  meningkatkan  aktivitas  belajarnya  dan  hasil  belajar  akan  tercapai.  Jadi  supaya  hasil  belajar  dapat  tercapai,  maka  perlu  adanya  motivasi,  baik  motivasi  dari  dalam  maupun  motivasi  dari  luar.

              Motivasi  dari  dalam  (motivasi  intrinsik)  terjadi  karena  adanya  rangsangan  dari  dalam  jiwa  pelajar,  misalnya  :  Adanya  rasa  ingin  tahu,  ingin  memperbaiki  kegagalan  yang  lalu  dengan  usaha  yang  baru  dan  ingin  mendapatkan  rasa  aman  bila  menguasai  suatu  pekerjaan.

            Motivasi  dari  luar  (motivasi  ekstrinsik)  terjadi  karena  adanya  rangsangan  dari  luar,  misalnya  siswa  giat  belajar  karena  sebentar  lagi  akan  menghadapi  ujian  semester.  Jadi  antara  fisik  dan  psikis  harus  stabil  agar  tercapai  hasil  belajar  yang  memuaskan.

        e)   Kebiasaan  Belajar  Secara  Teratur

             Seorang  siswa  yang  sudah  membiasakan  diri  belajar  secara  teratur,  maka  akan  menjadikan  belajar  sebagai  suatu  kebutuhan  yang  harus  dipenuhi  tiap  hari.  Kegiatan  ini  tidak  lagi  dianggap  sebagai  suatu  beban,  melainkan  sebagai  suatu  kebutuhan.

              Siswa  yang  mempunyai  kebiasaan  belajar  bila  akan  menghadapi  ujian  semester  saja,  akan  mengakibatkan  mereka  beranggapan  bahwa  belajar  merupakan  beban  berat  bagi  dirinya.  Sering  dan  tidaknya  seorang  siswa  belajar  atau  rutin  tidaknya  siswa  belajar  akan  dapat  mempengaruhi  baik  buruknya  hasil  belajar  siswa.

2.  Faktor  yang  berasal  dari  luar  diri  siswa  ( Faktor  Eksternal )

Faktor  eksternal  atau  faktor  luar  adalah  semua  faktor  yang  ada  di  luar  diri  siswa,   tetapi  dalam  kenyataannya  sangat  besar  pengaruhnya  terhadap  belajar.  Faktor-Faktor  tersebut  antara  lain  :

a) Lingkungan 

Lingkungan  ada  bermacam-macam,  oleh  sebab  itu  perlu  dibedakan  menjadi  :

         1) Lingkungan  Alam

Keadaan  alam  yang  tenang  dan  sejuk  ikut  mempengaruhi  kesegaran  jiwa  siswa,  sehingga  memungkinkan  hasil  belajarnya  akan  lebih  tinggi  dari  pada  lingkungan  gaduh  dengan  udara  yang  panas  dan  kotor.

2)  Lingkungan  Keluarga

Keluarga  mempunyai  pengaruh  baik  terhadap  keberhasilan  siswa,  apabila  keluarganya  khususnya  kedua  orang  tuanya  bersifat  merangsang,  mendorong  dan  membimbing  terhadap  aktivitas  belajar  anaknya.  Hal  ini  yang  dapat  mempengaruhi  hasil  belajar  siswa,  suasana  rumah  serta  keadaan  ekonomi  keluarga.

         3)  Lingkungan  Sekolah

               Disamping  lingkungan  keluarga  dapat  mempengaruhi  hasil  belajar,        lingkungan  sekolah  pun  dapat  menyebabkan  baik  buruknya  hasil  belajar  siswa.  

 

B.  Model  Pembelajaran  Kontekstual

Ada  beberapa  beberapa  definisi  tentang  pembelajaran  kontekstual, yaitu  :

        Pengertian     kontekstual     adalah    suatu    proses    pendidikan     yang 

bertujuan  membantu  siswa  melihat  makna  dalam  bahan  pelajaran  yang  mereka  pelajari  dengan  cara  menghubungkannya  dengan  konteks  kehidupan  mereka  sehari-hari,  yaitu  dengan  konteks  lingkungan  pribadinya,  sosialnya,  dan  budayanya.  ( FE-Unesa,2007)

             Pada  intinya,  pembelajaran  kontekstual  membantu  guru  untuk  mengaitkan  materi  pelajaran  dengan  kehidupan  nyata  dan  memotivasi  siswa  untuk  mengaitkan  pengetahuan  yang  dipelajarinya  dengan  kehidupan  mereka.

             Definisi  lain  dari  CTL  adalah  pembelajaran / pengajaran  kontekstual  merupakan  suatu  proses  pendidikan  yang  holistik  dan  bertujuan  membantu  siswa  untuk  memahami  makna  materi  pelajaran  yang  dipelajarinya  dengan  mengaitkan  materi  tersebut  dengan  konteks  kehidupan  sehari-hari. (Konteks  pribadi,  sosial  dan kultural)  sehingga  siswa  memiliki  pengetahuan / ketrampilan  yang  fleksibel  dan  dapat  diterapkan  (ditransfer)  dari  satu  permasalahan / konteks  lainnya. (Tematik,Team ,2008)

             Pembelajaran  Kontekstual  adalah  konsep  pembelajaran  yang  menekankan  pada  keterkaitan  antara  materi  pembelajaran  dengan  dunia  kehidupan  nyata,  sehingga  peserta  didik,  dengan  mampu  menghubungkan  dan  menerapkan  kompetensi  hasil  belajar  dalam  kehidupan  sehari-hari. (Sudrajat, Akhmad,2008)

             Dalam  pembelajaran  kontekstual,  tugas  guru  adalah  memberikan  kemudahan  belajar  kepada  peserta  didik,  dengan  menyediakan  berbagai  sarana  dan  sumber  belajar  yang  memadai.  Guru  bukan  hanya  menyampaikan  materi  pembelajaran  yang  berupa  hafalan, tetapi  mengatur  lingkungan  dan  strategi  pembelajaran  yang    memungkinkan  peserta  didik  untuk  belajar.

             Dari  beberapa  definisi  di  atas,  peneliti  dapat  menyimpulkan  bahwa  Pembelajaran  Kontekstual  adalah  suatu  pembelajaran  yang  mengaitkan  materi  pelajaran  dengan  dunia  nyata  kehidupan  dan  pengalaman  siswa  di  luar  kelas,  agar  siswa  dapat  memecahkan  masalah,  tugas  dan  latihan  secara  riil  dan  otentik  serta  dapat  menerapkannya  dalam  kehidupan  sehari-hari  dan  yang  akan  datang.

             Pendekatan  Kontekstual  merupakan  pendekatan  yang  paling  sesuai  untuk  Kurikulum  Berbasis  Kompetensi  (KBK).  Pembelajaran  berdasarkan  KBK,  tidak  lagi  di  dominasi  oleh  guru.  Selain  itu  hasil  belajar  melalui  tes  bukan  satu-satunya  hasil  belajar  yang  menentukan,  dan  menghafal  merupakan  strategi  yang   harus  dihindarkan.  Pembelajaran  KBK  menuntut  keterlibatan  aktif  siswa  dalam  proses  pembelajaran.

    1.  Ciri-Ciri  CTL

     Menurut  Blancard (2001), Pendekatan  CTL  memiliki  ciri-ciri  sebagai    berikut  :

1) Penekanan  pada  pentingnya  pemecahan  masalah.

2) Perlunya  kegiatan  belajar  mengajar  yang  dilkukan  dalam  berbagai     konteks  seperti  rumah,  masyarakat,  dan  tempat  kerja.

3) Perlunya  mengajar  siswa,  memantau  dan  mengarahkan  pembelajaran   mereka  agar  menjadi  siswa  yang  dapat  belajar  mandiri.

4) Penekanan  pelajaran  pada  konteks  kehidupan  siswa  yang  berbeda-beda.

5) Mendorong  siswa  untuk  dapat  belajar  dari  sesama  teman  dan  belajar  bersama  dalam  kelompok.

6) Penggunaan  penalaran  otentik.

   2.  Komponen  CTL

         Komponen  atau  prinsip  dasar  pendekatan  CTL  adalah :             

1)  Konstuktivisme

2)  Questioning  (bertanya)

3)  Inquiry  (menemukan)

4)  Learning  Community  (masyarakat  belajar)

5)  Modelling  (pemodelan)

6)  Refleksi

7)  Autenthic  Assassment  (penilaian  autentik)

                Dari  ketujuh  komponen  tersebut,  peneliti  memilih  komponen  yang  nomor  lima  yaitu  komponen  pemodelan.  Komponen  ini  yang  peneliti  anggap  paling  tepat  untuk  membantu  siswa  mengingkatkan  hasil  belajar  meringkas  novel  remaja  Indonesia  yang  kaitkan  dengan  kehidupan  nyata  disekitar  siswa.

3.  Strategi  Pemodelan

             Strategi  pemodelan  adalah  startegi  yang  sangat  penting  dalam  proses  pembelajaran.  Sebuah  pembelajaran  selalu  ada  model  yang  bisa  ditiru.  Pemodelan  menjadi  sangat  penting  terutama  dalam  memgajarkan  ketrampilan  atau  pengetahuan  prosedural.  Bagaimana  bertingkah  laku  baik,  akan  lebih  mudah  diajarkan  dengan  memberi  model  daripada  harus  menjelaskan  dengan  kata-kata.  Model  bisa  diambil  dari  siswa,  guru,  atau  seorang  ahli  yang  bisa  dihadirkan  secara  langsung  di  depan  siswa  atau  secara  tidak  lagsung  melalui  VCD.

             Menurut  Kasihani  (2003)  Dalam  pendekata  CTL,  guru  bukan  satu-satunya  model,  sebab  guru  dapat  menghadirkan  orang  lain.  Model  dapat  dirancang  dengan  melibatkan  orang  lain  atau  siswa.  Seorang  siswa  bisa  ditunjuk  untuk  memberi contoh  temannya  cara  melafalkan  suatu  kata.  Jika  kebetilan  ada  siswa  yang  pernah  memenangkan  lomba  karya  ilmiah,  siswa  "contoh"  tersebut  dikatakan  sebagai  model.  Siswa  lain  dapat  menggunakan  model  tersebut  sebagai  "Standar"  kompetensi  yang  harus  dicapainya.

                  Definisi  lain  tentang  Pemodelan  menurut  Masnur  Muslich  (2008),  mengatakan  bahwa  komponen  pendekatan  CTL  ini  menyarankan  bahwa  pembelajaran  ketrampilan  dan  pengetahuan  tertentu  diikuti  dengan  model  yang  bisa  ditiru  oleh  siswa.  Model  yang  dimaksud  bisa  berupa  pemberian  contoh  tentang,  misalnya  cara  mengoperasikan  sesuatu,  menunjukkan  hasil  karya,  mempertontonkan  suatu  penampilan.  Cara  pembelajaran   semacam    ini   akan   lebih    cepat   dipahami   oleh  siswa   daripada  hanya  bercerita  atau  memberikan  penjelasan kepada  siswa  tanpa  ditunjukkan  modelnya  atau  contohnya.

       Prinsip-Prinsip  Komponen  Pemodelan  adalah  :

  1. Pengetahuan  dan  ketrampilan  diperoleh  dengan  mantap  apabila  ada  model  atau  contoh  yang  bisa  ditiru.
  2. Model  atau  contoh  bisa  diperoleh  langsung  dari  yang  berkompeten  atau  ahlinya.
  3. Model  atau  contoh  bisa  berupa  cara  mengoperasikan  sesuatu  contoh  hasil  karya  atau  model  penampilan.

              Keunggulan  Strategi  pemodelan  dibandingkan  dengan  strategi  lain  adalah  siswa  tidak  pernah  merasa  bosan  mengikuti  pembelajaran,  karena  dalam  proses  pembelajaran  siswa  selalu  mempunyai  pengalaman  baru,  sebab  siswa  tidak  harus  melulu  mendengarkan  ceramah  dari  guru  dalam  menyampaikan  pembelajaran.  Selain  itu  penggunaan  strategi  pemodelan  dapat membantu  siswa  untuk  lebih  mudah  memahami  materi  pelajaran.  Belajar  jadi  lebih  menyenangkan,  sehingga  secara  otomatis  dapat  meningkatkan  hasil  belajar  siswa  sesuai  dengan  indikator  yang  ingin  dicapai.

4.   Langkah-langkah  Penggunaan  Strategi  Pemodelan

Dalam  penerapan  proses  pembelajaran,  langkah-langkah  penggunaan  Strategi  Pemodelan  adalah  sebagai  berikut  :

o.  Setelah  pembelajaran  satu  topik  tertentu, carilah  topik-topik  yang  menuntut  siswa  untuk  mencoba  atau  mempraktekkan  ketrampilan  yang  baru  diterangkan.

 o.  Bagilah  siswa  kedalam  beberapa  kelompok  kecil  sesuai  dengan  jumlah  mereka. Kelompok  ini  akan  mendemontrasikan  suatu  keterampilan  tertentu  sesuai  dengan  skenario  yang  dibuat.

o.  Berikan  kepada  siswa  waktu  10 – 15 menit untuk  mencipatakan  skenario  kerja.

o.  Berikan  waktu  5 – 7 menit  untuk  berlatih.

o. Secara bergiliran tiap-tiap kelompokdiminta  mendemontrasikan  kerja   masing-masing. Setelah  selesai, beri  kesempatan  kepada  kelompok  lain  untuk  memberikan  masukan  pada  setiap  demonstrasi  yang  dilakukan (Suprijono, 2007 : 40)

 

 

C.  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia

1.  Novel

1)  Pengertian  Novel

            Definisi  novel  menurut  Van  Hoeve (2005)  dalam Uniqlly  adalah  jenis  karangan  panjang  yang  menggambarkan  tokoh-tokoh  yang  mengalami  rangkaian  peristiwa  yang  berkaitan  satu  sama  lain  di  suatu  tempat  dan  waktu  tertentu.

Sementara  menurut  Sam,  Arianto  (2008),  novel adalah  karya  sastra  yang  berbentuk  cerita  panjang  yang di  dalamnya  mengandung  unsur  keindahan  karena  mempunyai  sifat  menghibur  sekaligus  mempunyai  fungsi  sosial  dan  personal  yang  ikut  membina  orang  tua,  masyarakat  menjadi  manusia.

                  Sedangkan  dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia (KBBI, 2005),  pengertian  novel  novel  adalah  karangan  prosa  yang  panjang  mengandung  rangkaian  kehidupan  seseorang  dengan  orang  yang  di  sekelilingnya  dengan  menonjolkan  watak  dan  sifat  setiap  pelaku.

               Berdasarkan  ketiga  definisi  di  atas,  peneliti mengambil  kesimpulan  bahwa  pengertian  novel  adalah  jenis  karangan  panjang  yang  menggambarkan  kehidupan  seorang  tokoh  dengan  tokoh-tokoh  lain  yang  mengalami  rangkaian  peristiwa  yang  berkaitan  satu  sama  lain  di  suatu  tempat  dan  waktu  tertentu.  Bukan  hanya  segi  keindahan  bahasa  dan  cerita  saja  yang  ditonjolkan  ke  dalam  novel,  akan   tetapi  di  dalamnya  mengandung  amanat  yang  bermanfaat  bagi  pembaca  baik  secara  langsung  maupun  tidak  langsung.

         

      2)  Pengertian  Novel  Remaja

                            Dalam  uraian  di  atas  telah  peneliti  kaji  tentang

pengertian  novel,  sebelum  peneliti  tulis  pengertian  novel  remaja  terlebih  dahulu  peneliti  akan  menjabarkan  tentang  pengertian  remaja.

                Menurut  Erna  (1990),  Remaja  adalah  kaum  yang  oleh  para  psikolog  digolongkan  berusia  antara  16 – 25  tahun.  Dari  sisi  psikolognya  mereka  berada  di antara  golongan  dewasa  dan  anak-anak.  Masa  anak-anak  sudah  lewat,  tetapi  masa  dewasa  pun  belum  waktunya.

                Remaja  pada  umumnya  memiliki  rasa  ingin  tahu  yang  besar,  dinamis  dan  selalu  ingin  mencoba  hal-hal  yang  baru.  Dan  bila  tidak  ditanggulangi  secara  dini  akan  dapat  mengakibatkan  bertindak  tanpa  memperhitungkan  akibatnya.

               Definisi  lain  tentang  remaja  adalah  suatu  masa  dari  umur  manusia  yang  paling  banyak  mengalami  perubahan,  sehingga  membawanya  pindah  dari  masa  anak-anak  menuju  masa  dewasa. Perubahan-perubahan  yang  terjadi  meliputi  segala  kehidupan  manusia  yaitu  jasmani,  rohani,  pikiran,  perasaan  dan  sosial.  Biasanya  terjadi  antara  usia  16 – 25  tahun.  (Hariayani, 1992)

                Shindunata  (2000)  mengatakan,  Remaja  adalah  anak-anak  yang  dalam  fase  mencari  identitas  diri.  Dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (2005),   pengertian  remaja  adalah  mulai  dewasa,  sudah  sampai  untuk  kawin.

              Merujuk  pada  gabungan  beberapa  pengertian  istilah  novel  dan  remaja,  maka  peneliti  menyimpulkan,  novel  remaja  adalah  jenis  karangan  panjang  yang  berisi  warna-warni  kisah  kehidupan  atau  petualangan  yang  dialami  oleh  tokoh  dengan  orang-orang  disekelilingnya  serta  berkaitan satu  dengan  lainnya  dalam  waktu  dan  tempat  tertentu  yang  dilakukan  oleh  tokoh  yang  sudah  mulai  dewasa.

               Menurut  Agus  Tianto  (2007),  novel  remaja  adalah  karangan  panjang  yang  berisi  tentang  warna-warni  kisah  kehidupan  dan  petualangan  para  tokoh  yang  berusia  remaja.

                  Novel  remaja  yang  baik  bukan  hanya  sekedar  menghibur  melalui  cerita  yang  menarik,  melainkan  juga  memberi  pelajaran  tentang  nilai-nilai  yang  dapat  diteladani  pembacanya.

               Sementara  itu  menurut  Firman  Venayaksa  (2008)  novel  remaja  adalah  karangan  panjang  yang  dikonstruksikan  bagi  rem,aja  dan  tidak  terlalu   banyak  memakai  unsur-unsur  metafor,  malah  sebaliknya,  ia  memakai  gaya  bertutur  khas  remaja  hasil  karya  penulis  dari  dalam  negeri  sendiri.

             Penulisan  novel  remaja  sudah  dimulai  sejak  dulu.  Salah  satu  novel  remaja  populer  pada  tahun  1970an  adalah  Eddy D Iskandar. Novel  remajanya  sudah  difilmkan,  antara  lain  "Gita  Cinta  dari  SMA"  dan  "Puspa  Indah  di  Taman  Hati"  yang  pernah  diperankan  oleh  Rano  Karno  dan  Yessy  Gusman.

              Saat  ini,  perkembangan  novel  remaja  Indonesia  semakin  semarak.  Perkembangan  penerbitan  buku,  memunculkan  nama-nama  baru  yang  berusia  remaja (usia  sekolah  di  SMP  dan  SMU).  Banyaknya  novel  remaja  tersebut  memunculkan      kreatifitas  remaja  Indonesia  untuk  berkarya  dalam  menulis  novel.

                 Salah  satu  novel  yang  termasuk  kategori  best  seller  tahun  ini  dan  sedang  digemari  oleh  remaja  Indonesia  adalah  novel  yang  berjudul  "Ayat-Ayat  Cinta"  karya  Habiburrahman  El  Shirazy  yang  akan  dijadikan  oleh  peneliti  sebagai  bahan  pembelajaran  meringkas  novel  remaja  Indonesia.

2.  Meringkas

     1)  Pengertian  Meringkas

          Menyajikan  sebuah  tulisan  dari  seorang  pengarang  ke  dalam  sebuah  rulisan  yang  ringkas  bukan  hal  yang  mudah,  tentu  harus  membaca  dengan  cermat  dan  memperhatikan  ketika  kita  harus  menulisnya  secara  ringkas.  Dalam  hal  ini  yang  harus  kita  perhatikan  dalam  membuat  sebuah  ringkasan  adalah  mempertahankan  urutan  asli  dari  ide  asli  pengarang.  Akan  tetapi,   jangan  kita  mencampur  adukkan  pengertian  ketika  membuat  sebuah  ikhtisar.  Patokan  akan  kedua  hal  tersebut  ada  perbedaannya.  Dalam  membuat  ikhtisar  tidak  perlu  mempertahankan  urutan  karangan  asli  dan  tidak  perlu  memberikan   isi  dari  seluruh  karangan  itu  secara  proporsional.  (Keraf, 1984 : 262)

         Berikut  adalah  batasan  arti  ringkasan  menurut  beberapa  tokoh:

o.  Ringkasan  diartikan  sebagai  penyajian  singkat  dari  suatu  karangan  asli  tetapi  tetap  mempertahankan  urutan  isi  dan  sudut  pandang  pengarang  asli.  Sedangkan  perbandingan  bagian  atau  bab  dari  karangan  asli  secara  proporsional  tetap  dipertahankan  dalam  bentuknya  yang  singkat  itu.  (Keraf, 1984 : 262) (dalam  tulisan  Kristina  Dwi  Lestari) Dengan kata  lain  ringkasan   adalah  suatu  cara  efektif  yang  menyajikan  suatu  karangan  yang  panjang  dalam  bentuk  singkat.

o.   Pendapat  lain  tentang  Ringkasan  adalah  menurut  Harianto  GP  (2000),  dimaksudkan  sebagai  memberikan  uraian  yang  sesingkat-singkatnya  tentang  segala  hal  pokok  yang  dibahas.

o.   Sementara  itu,   dalam  tulisan  Budi  Prasetya,  ringkasan  dalam  bentuk  sinopsis,  biasanya  dilakukan  pada  buku  seperti  karya  fiksi  atau  non  fiksi.  Bentuk  sinopsis  merupakan  salah  bentuk  ringkas  suaru  karya  yang  kiranya  dapat  memberikan  dorongan  kepada  orang  lain  untuk  membaca  secara  utuh.  (Djauhari  dan  Suherti,  2001:12).

           Tujuan  dari  meringkas  menurut  Gorys  Keraf  (1984),  membuat   ringkasan  dapat  berguna  untuk  mengembangkan  ekspresi  serta  penghematan  kata.  Latihan  membuat  ringkasan  akan  mempertajam  daya  kreasi  dan  konsentrasi  si  penulis  ringkasan.  Penulis  ringkasan  dapat  memahami  dan  mengetahui  dengan  mudah  isi  karangan  aslinya,  baik  dalam  penyusunan  karangan,  cara  penyampaian  gagasan  dalam  bahasa  dan  suasana  yang  baik,  cara  pemecahan  suatu  masalah  dan  lain  sebagainya.

2)  Pengertian  Meringkas  Novel  Remaja  Indonesia.

               Pengertian  meringkas  novel  remaja  Indonesia  menurut  Wikipedi  (2008),  meringkas  novel  sama  dengan  sinopsis  novel.  Sinopsis  novel  adalah  ringkasan  cerita  novel.  Ringkasan  novel  remaja  Indonesia  adalah  bentuk  pemendekan  dari  sebuah  novel  yang  tetap  memperhatikan  unsur-unsur  intrinsik  novel  yang  mengambil  tema  tentang  kehidupan  anak-anak  remaja  yang  di  tulis  oleh  penulis  dari  dalam  negeri  sendiri.  Masih  menurut  Wikipedi : 

1).  membuat  sinopsis  merupakan  suatu  cara  yang  efektif  untuk  menyajikan  karangan   (novel)  yang  panjang  dalam  bentuk  yang  singkat.

2). Dalam  sinopsis,  keindahan  gaya  bahasa,  ilustrasi  dan  penjelasan-penjelasan  dihilangkan  tetapi  tetap  mempertahankan  isi  dan  gagasan  umum  pengarangnya.

3). Sinopsis  biasanya  dibatasi  oleh  jumlah  halaman,  misalnya  2  atau  3  halaman,  seperlima  atau  sepersepuluh  dari  panjang  karangan  asli.

               Sedangkan  pengertian  meringkas  novel  remaja  Indonesia  menurut  peneliti  adalah  memendekkan  cerita  panjang  yang  bertemakan  tentang  kehidupan  anak-anak  yang  sudah  mulai  dewasa  dengan  cara  mengambil   intisari  dari  cerita  dengan  mempertahan  isi  dan  sudut  pandang  pengarang.  Dengan  meringkas  dapat  membantu  siswa  untuk  mengingat  kembali  tentang  alur  sebuah  cerita.

Berikut        langkah-langkah     meringkas    novel   remaja   Indonesia        

menurut  Wikipedi  (2000)  adalah  sebagai  berikut  :

(1) Membaca  naskah  asli terdahulu  untuk  mengetahui  kesan  umum  penulis.

(2) Mencatat  gagasan  utama  dengan  menggaris  bawahi   gagasan-gagasan  yang  penting.

(3) Menulis  ringkasan   berdasarkan  gagasan-gagasan  utama  sebagaimana  dicatat  pada  langkah-langkah  kedua.  Gunakan  kalimat  yang  padat,  efektif  dan  menarik  untuk  merangkai  jalan  cerita  menjadi  sebuah  karangan  asli.

(4) Dialog  dan  monolog  tokoh  cukup  ditulis  isi  atau  garis  besarnya  saja.

(5) Ringkasan  /  sinopsis  novel  tidak  boleh  menyimpang  dari    jalan  cerita  dan  isi  keseluruhan  novel.

4.  Kerangka  Konseptual

             Mata  pelajaran  bahasa  Indonesia  mencakup  tentang  pengetahuan  kebahasaan  serta  pengetahuan  kesusasteraan.  Pengetahuan  kebahasaan  dalam  mata  pelajaran  bahasa  Indonesia  ditekankan  pada  fungsi  bahasa  sebagai  alat  komunikasi  dari  pada  pembelajaran  tentang  sistem  bahasa.  Sedangkan  pengetahuan  kesusasteraan  dalam  mata  pelajaran  bahasa  Indonesia  ditekankan  pada  kenyataan  bahwa  sastra  merupakan  salah  satu  bentuk  seni  yang  dapat  diapresiasikan.  Kedua  pengetahuan  tersebut  terangkum  dalam  Kemampuan  Berbahasa  Indonesia.  Untuk  memahami  pengetahuan  bahasa  secara  utuh,  kepada  siswa  diberikan  pembelajaran  melalui  model  pembelajaran  kontekstual  dengan  Strategi  Pemodelan.

               Model  pembelajaran  kontektual  strategi  pemodelan  digunakan  untuk mengajarkan  kemampuan  berbahasa  Indonesia  melalui  penyajian lisan  maupun  tertulis  dengan  bantuan  contoh-contoh  dan  model,  sehingga  sangat  membantu  memudahkan  guru  dalam  mentransfer  pengetahuan  kepada  siswa.

                Berdasarkan  kerangka  konseptual,  dan  kajian   pustaka,  berikut  ini  dikemukakan  suatu  kerangka  konseptual  yang  berfungsi  sebagai  penuntun  sekaligus  mencerminkan  alur  berpikir  di  dalam  memecahkan  masalah  penelitian.  (Kerangka  konseptual  terangkum  dalam  tabel 1)

 

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

  • Doa orang teraniaya akan dikabulkan oleh ALLAH SWT
    Umum - 16-06-2012 20:13:32  (2)
 
 
 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates